![]() |
Nazaruddin dan Manufandu. (int) |
Seperti diungkap Duta Besar Indonesia untuk Kolombia, Michael Manufandu, saat diwawancarai MetroTV, Senin (8/8/2011), sebelum ditangkap, Interpol yang menangkap Nazaruddin melihat buronan yang kabur dari Indonesia sejak 23 Mei 2011 itu sedang duduk sendirian. Interpol lalu menghampiri dan menanyakan apa yang sedang dilakukannya dengan duduk sendirian seperti itu.
Saat komunikasi berlangsung, Interpol mengenali wajah Nazaruddin dan menanyakan namanya. Nazaruddin mengaku kalau namanya Syarifuddin, namun Interpol tak percaya. Mereka memeriksa paspor Nazaruddin dan mendapati data kalau paspor tersebut memang atas nama Syarifuddin, namun fotonya berbeda. Interpol langsung curiga kalau paspor itu palsu atau milik orang lain, bukan milik orang yang ditanyainya itu. Nazaruddin pun ditangkap.
Selanjutnya, Interpol mengontak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) untuk Kolombia yang berkantor di Bogota, ibukota Kolombia, dan memberitahukan soal penangkapan itu. Kedubes Indonesia langsung meluncur ke Cartagena dan bertemu dengan Nazaruddin.
"Kepada saya pun dia selalu mengaku bernama Syafruddin, namun selama empat jam saya bersamanya, dia selalu meminta agar saya menemaninya karena katanya, dia sangat ketakutan," imbuh Manufandu.
Nazaruddin dievakuasi ke Bogota, dan Kedubes langsung mengontak Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Politik dan HAM. Dalam waktu cepat, pemerintah Indonesia melakukan identifikasi untuk memastikan kalau yang tertangkap memang Nazaruddin. Untuk itu Polri mengirimkan sidik jari Nazaruddin, dan ditemukan 12 kemiripan, sehingga dapat dipastikan kalau Syafruddin adalah Nazarudin, mantan anggota DPR RI yang juga mantan bendahara umum Partai Demokrat.
Saat ditangkap, Nazaruddin mengenakan kaos biru dan celana jins biru. Dia juga membawa sebuah tas kecil berwarna hitam yang diduga berisi dokumen-dokumen penting terkait kasus suap wisma atlit Sea Games, Palembang, sehingga pemerintah meminta Interpol mengamankan tas itu dengan cara disegel. Belakangan diketahui kalau paspor yang dipakai Nazaruddin untuk sampai di Kolombia adalah milik saudaranya yang bernama Syarifuddin. Syarifuddin sendiri telah ditangkap aparat Polda Sumatera Utara (Sumut), dan kini masih menjalankan pemeriksaan. Bahkan pada Rabu (11/8/2011) ini yang bersangkutan akan dikirim ke Mabes Polri, Jakarta, untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Dalam pengakuannya kepada aparat Polda Sumut, Syarifuddin mengaku kalau paspornya hilang, dan dia terkejut karena ternyata paspor itu berada di tangan Nazaruddin.
Penangkapan mantan bendahara umum Partai Demokrat ini menjadi sangat penting karena selama buron, melalui BBM dan Skype, Nazaruddin mengungkap sejumlah nama yang katanya terlibat dalam kasusnya, yakni ketua umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum, anggota DPR Angelina Sondakh, Nirwan Amir dan Anggota Komisi X DPR RI I Wayan Koster, serta Menteri Olahraga Andi Malarangeng. Kasus yang diungkap bahkan bukan hanya kasus pembangunan wisma atlet, namun juga pembangunan gedung atlet serbaguna di Hambalang, Bogor. Apalagi karena dalam 'nyanyiannya', Nazaruddin juga mengungkap kalau Komisioner KPK, Chandra M Hamzah, Deputi Penindakan KPK Ade Raharja, dan juru bicara KPK Johan Budi pernah menemui dirinya, sehingga KPK membentuk Komisi Etik untuk mengetahui apakah kicauan Nazaruddin tersebut benar atau hanya omong kosong.
Pemerintah menargetkan, pekan ini juga Nazaruddin sudah dapat tiba di Indonesia dari Kolombia.
0 komentar:
Posting Komentar