
Pendiri situs WikiLeaks ini lahir di Australia pada 3 Juli 1971. Dia pernah menjadi seorang penerbit dan aktivis internet. Sebelum mendirikan WikiLeaks pada 2006, Assange juga dikenal sebagai seorang hacker (peretas) terkenal, mahasiswa matematika dan fisika, serta seorang programer komputer.
Ketika masih kanak-kanak, lelaki berambut pirang ini jarang mendapat pendidikan formal. Bahkan hidupnya selalu berpindah-pindah. Apalagi karena ayah tirinya sangat kejam, sehingga Assange dan ibunya pernah terpaksa harus kabur demi menghindari siksaan demi siksaan dari ayahnya itu. Hingga berusia 14 tahun, Assange tercatat telah pindah tempat tinggal sebanyak 37 kali. Kondisi ini membuatnya harus sering pindah sekolah, bahkan pernah terpaksa sekolah di rumah (home schooling). Kemudian ketika remaja dia mulai mengikuti perkuliahan di berbagai perguruan tinggi di Australia.
Pada 1987, ketika usianya baru menginjak 16 tahun, Assange menjadi seorang hacker. Nama sandinya Mendax. Bersama dua hacker lainnya, dia mulai membuat kelompok, bernama International Subversives. Mereka bukan hacker perusak program, namun mencuri informasi dan membaginya kepada umum.
Dia dan kelompoknya tercatat punya akses ke satu universitas di Australia. Juga ke Nortel, sebuah perusahaan telekomunikasi Kanada, serta organisasi-organisasi lainnya. Pada tahun 1991 Assange ditangkap. Setahun kemudian dia dinyatakan bersalah dengan 24 dakwaan terkait aktivitas hacker. Dia bebas tahun itu juga, dengan membayar uang jaminan AU$ 2100.
Pada 2006, Assange bersama sembilan orang lainnya mendirikian WikiLeaks. Tapi hanya Assange yang dikenal, karena dia tampil sebagai juru bicara vokal. Tujuan awal WikiLeaks adalah memberikan balasan kepada perusahaan yang bertindak tidak etis, dan membantu memberantas korupsi di lembaga publik.
Di websitenya, WikiLeaks menuliskan organisasi itu punya tujuan mulia: menciptakan keterbukaan. “Transparansi menciptakan kehidupan lebih baik bagi semua masyarakat. Pengawasan yang baik akan mengurangi korupsi dan memperkuat demokrasi di semua institusi sosial, termasuk pemerintahan, perusahaan dan organisasi lainnya,” tulis WikiLeaks di situsnya.
Assange dan anggota WikiLeaks lainnya adalah relawan. Mereka tidak dibayar, dan semua pembiayaan diperoleh dari donasi para pengunjung situs nyentrik itu. Assange mengatakan WikiLeaks membocorkan dokumen rahasia lebih banyak daripada semua media di dunia, bahkan bila temuan mereka digabung jadi satu paket.
Assange hidup dengan gaya nomaden. Dia pernah menginap di bandara. Kadang dia merayap di Australia, Kenya dan Tanzania. Terakhir, Assange dilaporkan menyewa sebuah rumah di Islandia, pada Maret 2010. Dia kadang hadir di acara wawancara dengan media ternama, seperti Al Jazeera, MSNBC, Democracy Now! dan The Colbert Report.
Pada 3 Juni lalu dia muncul di acara Personal Democracy Forum di New York. Tapi, Assange tak hadir secara fisik. Dia tampil lewat video-conference. Sejak WikiLeaks makin aktif membocorkan rahasia AS, dia merasa tak aman lagi jika mengunjungi Amerika Serikat.
WikiLeaks mengantarkannya memperoleh beberapa penghargaan. Diantaranya penghargaan media dari Amnesty International pada 2009, Penghargaan Economist Index on Cencorship pada 2008, Sam Adams Award pada 2010. Dia juga dinobatkan sebagai 25 orang visioner yang akan mengubah dunia versi majalah Utne Reader. Pada 12 November 2010, dia masuk jajaran Person of the Year versi majalah Time.
Christine, ibu Assange, menggambarkan anaknya sebagai pribadi yang sangat cerdas.
"Dia juga anak yang cakep, sangat sensitif, baik kepada binatang, tenang, dan memiliki rasa humor yang hebat," kata Christine kepada koran Herald Sun.
Assange mulai mengenal komputer dan internet pada 1987, ketika usianya baru menginjak 13 tahun. Saat itu ibunya membelikan dia sebuah komputer, dan komputer itu kemudian dipasangi modem. maka hari itulah dia mulai 'berpetualang' di dunia maya yang saat itu memang sedang mengalami perkembangan.
"Ini seperti permainan catur," katanya kepada majalah New Yorker soal pengalaman pertamanya itu. "Permainan catur sangat sulit, karena dalam permainan itu Anda tidak memiliki banyak aturan, tidak ada keacakan, dan masalahnya memang sangat sulit."
Assange tidak dibesarkan dalam lingkungan agama yang kuat. Ibunya bahkan sejak awal menyadari, bahwa anaknya itu merupakan anak yang tindaktanduknya cenderung dikendalikan oleh apa yang diinginkan dan dirasakannya.
0 komentar:
Posting Komentar